foto 11

INSPIRASI Dukung Kepala Sekolah Karawang Siapkan Kepemimpinan SDM Era Industri 4.0

  • Program rintisan INSPIRASI mengadaptasi praktik terbaik berbagai program di beberapa negara  yang telah menyasar pengembangan kepemimpinan kepala sekolah yang tergabung dalam jejaring Global School Leaders (GSL)
  • Sebagai daerah padat industri, Kabupaten Karawang memilkii kebutuhan dan serapan tenaga kerja berkualitas tinggi. SDM berkualitas perlu disiapkan sejak usia pendidikan dasar.

Karawang, Kamis 18 Juli 2019 – Kabupaten Karawang, Jawa Barat, ditetapkan sebagai daerah rintisan implementasi program “Inisiatif Kepemimpinan Pendidikan untuk Raih Prestasi” (INSPIRASI). Dimulai pada tahun ajaran 2019/2020, tahap pertama program ini akan berjalan selama 1,5 tahun dan ditujukan bagi 20 kepala sekolah dasar negeri dan 5 madrasah ibtidaiyah.

“INSPIRASI” diluncurkan secara resmi di Resinda Hotel Karawang managed by Padma Hotels sebagai kontribusi dan kerjasama lintas sektoral oleh banyak pihak, untuk mendukung mewujudkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas sebagaimana visi yang disampaikan Presiden RI Joko Widodo.

Bupati Karawang Dr Cellica Nurrachadiana melakukan peresmian, didampingi Direktur Pembinaan Tenaga Kependidikan – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan – Kementerian Agama, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karawang, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karawang serta mitra dan donor program.

INSPIRASI dikembangkan sebagai wadah pelatihan dan peningkatan kapasitas kepemimpinan kepala sekolah di seluruh Indonesia. Sebagai daerah yang padat industri, Kabupaten Karawang memiliki kebutuhan dan serapan tenaga kerja yang berkualitas tinggi. Dengan demikian, dibutuhkan banyak tenaga kerja berkualitas yang perlu disiapkan sejak usia pendidikan dasar.

Lahirnya INSPIRASI tidak terlepas dari inisiatif dan dukungan mitra kerja atau donor yang terdiri dari Tanoto Foundation, Global School Leaders (GSL), Resinda Hotel Karawang, PT. Bukit Muria Jaya (BMJ), Triputra Agro Persada, dan Asia Philanthropy Circle (APC).

Riset berjudul Catalysing Productive Livelihood oleh Asia Philanthropy Circle (APC) tahun 2017, menunjukkan bahwa pengembangan kapasitas kepala sekolah mampu memberi dampak peningkatan hasil belajar siswa secara signifikan. Upaya ini merupakan tantangan Indonesia merujuk pada hasil riset menyebutkan baru 2% guru berpendapat kepala sekolahnya terampil memotivasi dan menginspirasi para gurunya.

Beberapa filantropis tersebut mengambil peran dalam INSPIRASI, menimbang hasil riset menyebutkan salah satu kontribusi yang selama ini jarang disentuh sektor swasta dan filantropis adalah pengembangan kualitas kepemimpinan kepala sekolah. 

Direktur Eksekutif INPIRASI, Patrya Pratama, menjelaskan bahwa program INSPIRASI akan memberikan pelatihan berupa setidaknya 12 workshop serta diikuti on-the-job learning (kerja praktik) dengan fasilitator pendamping. Materi pelatihan berfokus pada keterampilan kepemimpinan yang diperlukan agar kepala sekolah dapat berfungsi lebih efektif; seperti growth mindset, manajemen waktu, teknik kolaborasi dan komunikasi dalam tim, serta selalu berbasis bukti dan data dalam membuat keputusan.

“Program rintisan INSPIRASI akan mengadaptasi praktik-praktik dari program-program di beberapa negara lain untuk menyasar kepemimpinan kepala sekolah yang tergabung dalam jejaring Global School Leaders (GSL). Kepala sekolah akan dilatih untuk mampu menyelesaikan problem yang dihadapi secara mandiri dengan berbasis data serta sesuai dengan kondisi dan kemampuannya masing-masing,” ujar Patrya.

Dra. Santi Ambarukmi, M.Ed, Direktur Pembinaan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan KEMENDIKBUD mengatakan bahwa penguatan kepemimpinan kepala sekolah ini sangat perlu dan selaras dengan kebijakan pemerintah pusat melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 6/2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah.

“Kepemimpinan kepala sekolah mutlak diperlukan karena tugas pokok seorang kepala sekolah kini tidak lagi merangkap sebagai guru, tetapi fokus sebagai seorang manajer sekolah yang bertugas meningkatkan mutu sekolah agar siswa belajar optimal. Kami berharap program INSPIRASI dapat mengembangkan model-model pelatihan kepemimpinan inovatif lainnya. Termasuk penggunaan teknologi informasi dan kemitraan antar kepala sekolah,” ungkap Santi.

Selaras dengan tujuan program INSPIRASI, Pemerintah Kabupaten Karawang mempunyai fokus dalam bidang pendidikan yang memberi prioritas pembangunan manusia. “Kabupaten Karawang mempunyai prioritas program kerja yaitu meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), harapannya setelah Program INSPIRASI berjalan, maka ini akan mendukung terhadap peningkatan IPM Kabupaten Karawang dan peningkatan kualitas Pendidikan itu sendiri,” ucap Bupati Kab. Karawang, Dr Cellica Nurrachadiana.

Sementara itu Global CEO Tanoto Foundation Satrijo Tanudjojo mewakili para mitra kerja dan donor program mengatakan bahwa upaya peningkatan kepemimpinan kepala sekolah melalui program INSPIRASI, merupakan salah satu area yang memiliki peluang besar untuk para pegiat filantropi agar dapat memicu dampak yang besar di Indonesia.

“Selain filantropi, kami percaya bahwa keterlibatan pemerintah sangat penting untuk keberhasilan inisiatif ini. Kolaborasi erat di antara semua pihak, termasuk Pemerintah Karawang, pegiat filantropi, dan sekolah inilah yang mendorong Tanoto Foundation, Resinda Hotel Karawang, BMJ, dan Triputra Agro Persada berkomitmen untuk mendukung program ini,” imbuh Satrijo. Info lebih lanjut: info@inspirasi-gsl.com

foto 10

Roundtable on School Leadership: Exploring Ideas for INSPIRASI

School leadership in one important puzzle piece in ensuring quality education. With only 2 percent of teachers rated their principals as a competent motivator, 5 percent rated them as academically competent, and 8 percent as competent leaders according to the latest nationwide survey by ACDP in 2013, the challenge is definitely real to transform the state of Indonesia’s principals into competent leaders of around 217,000 schools across the archipelago.

With that mind, around 30 leaders and experts of diverse background such as education activists, academics, business, think-tanks, and public sector, gathered in the Roundtable Discussion organized by the Asia Philanthropy Circle (APC) on January 16th , to discuss how to kick-start an initiative that takes on the challenge. Among the participants were Tanoto Foundation, Djarum Foundation, Triputra, SMERU, JPAL SEA, YCAB, Indonesia Mengajar, Kampus guru Cikal, Save The Children, the National Team for the Acceleration of Poverty Reduction (TNP2K) and many others.

The initiative itself is called “INSPIRASI”, a short for Initiatif Kepemimpinan Pendidikan untuk Raih Prestasi (Education Leadership Initiative for Student Achievement), which is also a direct recommendation from the 2017’s APC Education Giving Guide, Catalysing Productive Livelihood. As its first project, INSPIRASI will pilot a continuous professional development program for principals in 2019.

Several themes of ideas emerges from the discussion. Participants identified more space of opportunities and iddeas forward for a non-government initiative such as INSPIRASI to address the issue of school leadership, on top of providing merely quality training program. For example, SMERU Research Institute and TNP2K’s KIAT Guru program suggested introducing performance-based incentive and parent participation to boost principal performance and accountability. Others, such as Ruangguru which already implemented technology-based intervention to support professional development of teachers, reckoned that similar innovation can also be trialed with principals.

In piloting new intervention ideas, however, as noted by Elan Satriawan from TNP2K, the initiative should take into account the current government policy to ensure alignment, such as existing Continuous Professional Development (CPD) program by the Ministry of Education and Culture, and the principal deployment which is often influenced by local political. Moreover, Santoso from the Worldbank and Totok Soefianto from Paramadina University noted that the INSPIRASI’s Theory of Change and participant selection process were critical elements in program design. It defines specific leadership competency that it seeks to strengthen. The program could also include other relevant stakeholders such as fellow teachers and supervisors to promote effective peer-learning.

Scale and public awareness were also among the issues surfaced in the Roundtables. Victor Hartono, the Chair of APC Indonesia Chapter, explained that to scale up, INSPIRASI should not overlook the private sector potentials. The participants also pointed out that school leaders may not be well-understood by the general public, which calls for a public awareness campaign. To do this, Lina Marliani from JPAL SEA emphasized the importance of what works in this field, while public speaker Renee Suhardono suggested the numerous creative popular media campaign such as Youtube video series, that INSPIRASI could try.

The Roundtable concluded that further collaboration would follow, not just to support the INSPIRASI initiative, but also to further push for more initiative to transform school leaders in Indonesia.

Source:https://www.edumap-indonesia.asiaphilanthropycircle.org/roundtable-on-school-leadership-exploring-ideas-for-inspirasi/