#1 Kegiatan INSPIRASI – Umpan balik Positif
INSPIRASI (Inisiatif Kepemimpinan Pendidikan Untuk Raih Prestasi) adalah lembaga nonprofit dan independen yang bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa melalui dukungan peningkatan keefektifan kepemimpinan kepala sekolah, khususnya terkait pembelajaran.
pendidikan, inspirasi, kepala sekolah, sekolah, kepala, guru, inspirasi foundation, kepemimpian, inisiatif, prestasi, nonprofit, lembaga, siswa, pembelajaran
15133
post-template-default,single,single-post,postid-15133,single-format-standard,bridge-core-2.2.5,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-21.2,qode-theme-bridge,qode_header_in_grid,wpb-js-composer js-comp-ver-6.2.0,vc_responsive

#1 Kegiatan INSPIRASI – Umpan balik Positif

#1 Kegiatan INSPIRASI – Umpan balik Positif

Umpan Balik Positif sebagai Upaya Perbaikan Efektif

24 Maret 2020 – Bayangkan, Anda adalah seorang guru yang mengajar di suatu kelas. Saat mengajar, kepala sekolah Anda ikut masuk ke kelas karena sedang mengobservasi kegiatan belajar mengajar.

Di akhir kegiatan, Anda pun meminta tanggapan, masukan atau feedback dari kepala sekolah tersebut. “Bagaimana cara mengajar saya tadi? Apakah sudah bagus?”

Kepala sekolah Anda menjawab, “Cara mengajar Anda tadi sudah bagus, hanya perlu ditingkatkan sedikit lagi!”

Kira-kira, apa yang ada di pikiran Anda setelah mendengar jawaban tadi? Barangkali Anda akan merasa gemas atau kebingungan.

Bagian mana atau apa yang perlu ditingkatkan dari performa mengajar saya tadi ya? Apakah kemampuan penguasaan materinya? Cara berkomunikasi dengan siswa? Atau jangan-jangan ada yang salah dengan cara berpakaian saya? Kemudian Anda merasa feedback dari kepala sekolah tadi seakan tidak membantu sama sekali.

Pemberian Feedback harus Tepat

Sebuah feedback (umpan balik) akan lebih bermanfaat jika dapat dipahami dengan jelas oleh penerimanya. Dengan ini, si penerima feedback dapat melakukan perbaikan atau tindakan spesifik agar di lain waktu, proses yang sama dapat berjalan lebih efektif.

Feedback yang tidak tersampaikan dengan tepat bisa menjadi petaka. Penerima feedback bisa saja trauma, merasa terhakimi, atau malah muncul stigma negatif pada kegiatan bernama ‘feedback’ itu sendiri. Maka, penting bagi seorang Kepala Sekolah (atau pimpinan sebuah organisasi) menguasai teknik atau cara menyampaikan feedback yang baik.

Seorang guru sangat membutuhkan feedback dari kepala sekolah agar kualitas mengajarnya semakin meningkat. Feedback yang bermanfaat tentu disampaikan dengan cara yang positif pula karena akan berpengaruh pada partisipasi guru dalam menyukseskan program-program sekolah.

Sebuah studi yang melibatkan 22.719 pemimpin menunjukkan bahwa umpan balik berpotensi meningkatkan partisipasi dan keterlibatan tim dalam melaksanakan program dan mencapai tujuan (forbes.com). 10% peringkat teratas memiliki tingkat partisipasi bawahannya sebanyak 77% saat umpan balik diberikan dengan cara santun dan membangun. Sebaliknya, 10% peringkat terbawah hanya mendapatkan partisipasi sebanyak 25% saja karena keliru caranya.

5 Langkah Efektif Pemberian Feedback yang Membangun

Kepala sekolah dapat melakukan cara-cara ini agar umpan balik yang diberikan kepada guru berdampak positif untuk kemajuan bersama.

  1. Merujuk pada waktu tertentu

Jelaskan dengan tepat, pada saat kapan umpan balik itu dimaksudkan. Apakah saat membuka pelajaran? Saat memberikan instruksi? Atau, saat menjelaskan materi? Hal ini akan membantu guru mengingat kembali kegiatan mengajarnya dan memperhatikan penjelasan Anda lebih cermat.

Contoh:

  • “Saat Bapak meminta siswa untuk membaca bersama…”
  • “Saat Ibu mulai menjelaskan materi … “
  • “Saat Anda membacakan soal dan memberikan instruksi …”
  1. Mendeskripsikan tindakan yang dilakukan

Jelaskan tindakan-tindakan yang dilakukan guru tersebut pada poin yang ingin anda berikan komentar. Apa yang dibicarakan guru tersebut? Kegiatan mana yang Anda maksud? Aktivitas mana yang dirujuk sehingga menyebabkan terjadinya sesuatu saat mengajar?

Contoh:

  • “Saya mengamati Bapak hanya duduk di kursi bapak di depan kelas.”
  • “Saya memerhatikan Ibu hanya membaca buku tanpa melihat reaksi anak-anak.”
  • “Saya menyimak intonasi Anda terlalu cepat dan tidak ada pengulangan.”
  1. Menjelaskan dampaknya

Memberikan gambaran apa akibatnya jika guru tersebut melakukan tindakan tertentu. Apakah dampaknya menjadi kurang baik? Adakah hasil yang tidak sesuai harapan? Atau, adakah efek lain dari tindakan-tindakan tadi?

Contoh:

  • “Ada beberapa anak di belakang yang malah bermain sendiri dengan teman sebelahnya saat anak lain membaca.”
  • “Ada beberapa anak keluar masuk kelas tanpa tujuan hingga beberapa menit namun tidak ada tindakan lain dari Ibu.”
  • “Beberapa siswa bertanya dengan teman kanan-kirinya berkali-kali karena kurang dapat mendengar dengan jelas.”
  1. Menguraikan konteks

Mengelaborasi lebih mendalam tindakan-tindakan yang dimaksud saat pemberian feedback. Anda bisa spesifik menjelaskan beberapa akar masalah kenapa sebuah dampak akhirnya dapat terjadi. Hal ini akan membantu guru memahami aktivitas mana yang perlu ditingkatkan mana yang sudah baik

Contoh :

  • “Mengapa ya Bapak lebih memilih untuk selalu berdiri atau duduk di depan kelas?”
  • “Mengapa Ibu lebih memilih membaca sendiri dari pada mengajak siswa untuk membacakan?
  • “Apa yang membuat Anda hanya satu kali memberikan instruksi saat hendak memberikan soal kepada siswa?”
  1. Merencanakan tindak lanjut perbaikannya

Langkah ini sangat penting agar guru tidak melakukan kesalahan yang sama. Selain itu, guru mendapatkan solusi tindakan praktis yang nantinya dapat diterapkan ketika ada kesempatan lain. Anda dapat mendorong guru menemukan sendiri solusi yang tepat dengan memberikan beberapa pertanyaan-pertanyaan kunci, bukan menginstruksikan secara otoriter kepada guru.

Contoh:

  • “Apa yang bisa dilakukan ya Pak agar setiap anak, walaupun duduk di belakang tetap mendapat perhatian Bapak?”
  • “Bagaimana kalau Ibu berkeliling kelas sampai ke belakang saat ada anak yang membaca untuk memastikan anak lainnya menyimak dengan benar?”
  • “Bagaimana kalau setiap anak hanya membaca 3 kalimat saja dan anak lainnya yang melanjutkan sehingga semua anak akan menyimak bacaan?”

Jika suatu saat nanti Anda berkesempatan memberikan umpan balik, ingatlah untuk menerapkan 5 langkah tersebut. Semoga, guru-guru yang mendapatkan umpan balik dengan cara positif ini dapat meningkatkan perbaikan lebih efektif. Tak ada kebingungan, tak ada petaka. Feedback pun menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Praktik Pemberian Umpan Balik di Workshop

Kami pernah menerapkan materi ini pada sesi workshop ketiga bulan September lalu. Dalam sesi Pemberian Umpan Balik ini, ada 4 kegiatan utama dalam waktu 120 menit yaitu sebagai berikut:

1.Memberikan umpan balik tertulis berdasarkan video (40 menit)

  • Peserta menonton video pembelajaran guru dan mencatat poin-poin apa saja yang ingin dijadikan diskusi umpan balik
  • Peserta menuliskan umpan balik yang ingin disampaikan ke guru yang baru saja diamati dengan kalimat langsung
  • Peserta dibagi menjadi dua grup besar, umpan balik yang sudah dituliskan kemudian ditukar antar grup
  • Peserta saling berdiskusi mengelompokkan umpan balik yang menurut mereka bermanfaat untuk perbaikan guru dan yang tidak
  • Peserta mengidentifikasi faktor apa saja yang membuat umpan balik menjadi berguna bagi perbaikan mengajar guru

2.Diskusi pemberian umpan balik yang efektif (10 menit)

  • Faktor yang sudah teridentifikasi oleh peserta sebelumnya kemudian dikaitkan dengan salah satu cara memberikan umpan balik yang efektif (mengacu ke infografis)

3.Bermain peran memberikan umpan balik yang efektif (50 menit)

  • Bentuk kelompok dengan anggota 3 orang, dengan peran 1 Kepala Sekolah, 1 guru dan 1 pengamat.
  1. Kepala Sekolah: memberikan umpan balik perbaikan
  2. Guru: menjadi guru yang ada di video
  3. Pengamat: mengamati proses pemberian umpan balik
  • Dengan menggunakan video yang sebelumnya ditayangkan, beri kesempatan pada setiap kelompok untuk mendiskusikan bagaimana mereka akan memberikan umpan balik ke guru agar dapat mengajar lebih baik.
  • Beri kesempatan selama 15 menit ke setiap kelompok untuk bermain peran secara bergantian sehingga semua peserta merasakan memberikan umpan balik.
  • Tanya apa yang dirasakan oleh masing-masing peran:
  1. Pengamat: “Apa yang Bapak atau Ibu harus diperhatikan saat proses pemberian umpan balik terjadi?”
  2. Kepala Sekolah: “Apa hal yang paling mudah atau sulit saat memberikan umpan balik?”
  3. Guru: “Apakah umpan balik membantu untuk mengubah praktik mengajar menjadi lebih baik?”

4.Mengembangkan rencana pemberian umpan balik (10 menit)

  • Beri kesempatan peserta untuk menuliskan catatan/poin-poin bagaimana nantinya mereka akan menyampaikan umpan balik yang efektif ke guru selama proses pembelajaran.
  • Catatan tersebut akan menjadi panduan KS dalam memberikan umpan balik yang efektif ke guru.

5.Sesi refleksi (10 menit)

  • Tanyakan pada peserta mengapa memberikan umpan balik penting untuk dilakukan dan bagaimana tahapan memberikan umpan balik ke guru yang efektif.
  • Diskusikan tahapan umpan balik yang paling sulit dan apa yang bisa dilakukan untuk memudahkan

Lesson learnt Sesi Umpan Balik

Dari pelaksanaan sesi ini, kami menemukan pembelajaran sebagai berikut:

  • Peserta terbiasa memberikan atau mendapat umpan balik yang umum seperti “pembelajarannya sudah bagus, tapi masih bisa ditingkatkan lagi”, sehingga banyak yang belum merasakan manfaat pemberian umpan balik dari KS
  • Umpan balik masih dianggap sebagai kritik terhadap pekerjaan orang lain sehingga peserta sering merasa sungkan untuk memberikan umpan balik dan cenderung memberikan umpan balik yang umum untuk menghindari konflik. Hal ini bisa dihindari dengan pemaparan fakta sesuai dengan Langkah Pemberian Umpan Balik yang Efektif (infografis)
  • Kepala sekolah yang merasa pengetahuan pedagogiknya kurang dari gurunya, merasa tidak percaya diri dalam menyampaikan umpan balik karena takut salah. Padahal, pemberian umpan balik bisa dilakukan dengan diskusi sehingga solusi pun bisa datang dari diskusi (dapat melihat langkah ke lima pemberian umpan balik yang efektif’)

Penulis: Masdar Fahmi

Editor: Cici T. Wanita

No Comments

Post A Comment