Pemimpin Menginspirasi #1 – Nunung Maryani

Pemimpin Menginspirasi #1 – Nunung Maryani

Peningkatan Kompetensi Guru Menjadi Kunci Keberhasilan Nunung Memimpin Sekolahnya

Nunung Maryani mendapatkan tugas menjadi kepala SDN Duren III pada tahun 2018 lalu. Populasi siswanya cukup banyak, namun jumlah rombongan belajar dan kelasnya terbatas. Jumlah gurunya pun terbilang banyak. Terpaksa, Bu Nunung harus membagi waktu sekolah menjadi dua shift, pagi dan siang.

Keadaan ini menjadi tantangan yang cukup berat. Bu Nunung bahkan harus rela berada di sekolah sepanjang pagi hingga sore, dari Senin hingga Sabtu, untuk memastikan proses pembelajarannya berlangsung efektif. Terlebih lagi kondisi sekolah yang berada di pedesaan dan jauh dari kata ‘layak’.

Kepala sekolah di kecamatan Klari Karawang umumnya ditunjuk karena hasil periodesasi kepala sekolah sebelumnya. Artinya, kepsek tersebut awalnya seorang guru, lalu mendapat tugas sebagai kepsek lantaran kepsek sebelumnya habis masa jabatannya. Berbeda dengan Bu Nunung, dia diangkat karena memang tugasnya sebagai kepala sekolah belum habis masa periode.

Karena pengalamannya itulah, siapa sangka, hanya dalam waktu satu tahun, Bu Nunung mampu mentransformasikan SDN Duren III menjadi sekolah percontohan sekolah-sekolah lain di sekitarnya. Tak hanya itu, prestasi siswa-siswinya pun meningkat signifikan. Koordinasi guru-guru shift pagi dan siang pun kian baik.

Menunjang tugasnya sebagai kepsek, Bu Nunung bermitra dengan INSPIRASI Foundation dan mengikuti proyek rencana aksi sejak pertengahan 2019 lalu. Kedua belah pihak bekerjasama agar kepemimpinan di sekolah menjadi lebih efektif. Bukan berfokus pada masalah administratif, namun lebih mengutamakan pada keberhasilan pembelajaran siswa di kelas.

Salah satu contoh, tanggung jawabnya saat melakukan supervisi akademik, yaitu observasi kelas. Bersama dengan INSPIRASI, Nunung mencoba mengidentifikasi tiap guru yang didampingi. Dia berkesimpulan bahwa kebanyakan guru-guru belum dapat memfasilitasi siswa belajar aktif dan efektif. Ternyata, hal ini karena kurangnya wawasan guru terkait metode belajar aktif di kelas.

Setelah mengetahui penyebab utama dari permasalahan yang dihadapi guru-gurunya, Bu Nunung merencanakan beberapa tindakan. Yaitu, in house training, salah satunya mengajak guru ‘berbelanja’ ilmu secara online dan menggunakannya sebagai sumber penguatan guru. Selain itu, dia juga mendelegasikan guru yang memiliki kemampuan IT untuk mengelola sumber belajar tersebut agar dapat dimanfaatkan saat pelatihan.

In house training tersebut dilakukan saat rapat dinas. Waktu tersebut dipilih lantaran guru shift pagi dan siang dapat bertatap muka secara bersamaan. Bu Nunung juga melibatkan pengawas untuk menjadi pemateri pelatihan. Koordinasi yang baik ini membuat seluruh penyelenggara pendidikan makin dekat satu sama lain. Pengawas pun dapat memberikan motivasi agar para guru selalu mengaplikasikan apa yang disampaikan pada sesi-sesi pelatihan.

Beberapa inisiasi yang dilakukan Bu Nunung tersebut tak akan berguna jika tak ada monitoring dan evaluasi. Karena itulah, saat melakukan observasi ulang kepada para guru yang telah mendapatkan pelatihan, dia merekam kegiatan belajar mengajar tersebut. Rekaman ini ia jadikan sebagai data saat memberikan umpan balik.

Apa yang ditanam, suatu saat akan dituai. Peribahasa ini sungguh cocok diberikan kepada pemimpin sekolah tersebut. Para guru mulai mengubah metode klasikalnya saat mengajar, menjadi model-model pembelajaran aktif yang didapatkan di pelatihan. Dia pun rutin melakukan diskusi terkait model pembelajaran dan merefleksikannya bersama saat rapat dinas. Hasilnya, tiap guru memiliki rencana aksi untuk implementasi berkelanjutan.

Bisa dibilang, waktunya masih cukup singkat memimpin SDN Duren III. Namun, programnya menumbuhkan budaya belajar di kalangan guru, cukup berhasil. Kegiatan guru menggunakan sarana internet sekolah untuk mencari bahan atau materi mengajar, sudah mulai jadi kebiasaan. Budaya semangat mengembangkan diri dari para guru, seperti membaca tentang model-model pembelajaran, pun kian meningkat.

Tak patah semangat dan tak gampang menyerah adalah prinsip yang beliau terapkan. Berbekal pengalaman dan prinsip ingin maju, Bu Nunung telah memberikan contoh betapa penting mengelola warga sekolah secara efektif, terutama dengan ikut meningkatkan kompetensi para tenaga pendidiknya.

Penulis: Yoni Nurdiansyah

Editor: Masdar Fahmi

No Comments

Post A Comment