Mari kita tilik, Sudahkah BDR Berjalan Baik?

Mari kita tilik, Sudahkah BDR Berjalan Baik?

Pandemi covid-19 menuntut kita untuk melakukan adaptasi di segala bidang, termasuk pendidikan. Namun, bagaimana adaptasi ini berjalan? Adakah yang tertinggal dalam beradaptasi? Sebelum itu, mari kita tilik, sudahkah adaptasi ini berjalan baik?

Forum Kajian Pembangunan (FKP) menyoroti implementasi Belajar Dari Rumah (BDR) di Indonesia yang sudah berjalan sejak Maret lalu. BDR tercetus atas dasar Surat Edaran Mendikbud No. 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran COVID-19. Mengangkat topik tentang “Belajar Dari Rumah : Sudahkah Inklusif?”, FKP INSPIRASI Foundation, INOVASI, dan Kemendikbud untuk melihat apakah pelaksanan BDR sudah menjamin kesempatan belajar bagi seluruh siswa di Indonesia.

Hasil penelitian Kemendikbud menunjukkan 96.6% pembelajaran dilakukan di rumah, 3.3% dilakukan bergantian (rumah dan sekolah), serta 0.1% sepenuhnya di sekolah. Siswa yang berada di zona 3T mayoritas melakukan pembelajaran dari rumah. Senada dengan kajian INOVASI, bahwa kebanyakan sekolah di NTT, NTB, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur melakukan pembelajaran secara offline. Penyesuaian pelaksanaan BDR ini dipengaruhi oleh keterjangkauan waktu, fasilitas, dan kualitas sumber daya.

Kemendikbud berupaya mendukung pelaksanaan BDR dengan cara menggratiskan aplikasi belajar daring bagi daerah non-3T dan meminjamkan buku bagi siswa di lokasi 3T. Di lingkup sekolah, tinjauan INSPIRASI menunjukkan bahwa kepala sekolah dapat merealokasi sumberdaya untuk efektivitas BDR. Contoh, memotong anggaran kebutuhan tidak mendesak, kemudian mengalokasikannya untuk gaji guru, biaya transportasi kunjungan ke siswa yang minim fasilitas internet, dan pembelian paket data untuk guru.

Irsyad Zamjani, Plt. Kepala pusat penelitian di Kemendikbud mengatakan, cara sebagian besar orang tua dalam mendampingi BDR di semua jenjang SD hingga SMA adalah dengan memberikan motivasi dan memantau hasil belajar. Untuk itu, komunikasi efektif pihak sekolah kepada orangtua siswa menjadi kunci keberhasilannya.

Survei terhadap 827 kepala sekolah yang dilakukan oleh INSPIRASI Foundation mengungkap, 60% kepala sekolah telah mampu melakukan komunikasi yang baik dengan orangtua siswa. Selain itu, 74% kepala sekolah juga sudah sadar mengenai well-being siswa. Para kepala sekolah memberikan motivasi kepada siswa melalui video dan mendorong guru untuk lebih memerhatikan kesejahteraan mental/fisik siswa dari pada hanya mengejar kurikulum saja.

Pelaksanaan BDR pun tak lepas dari beragam tantangan. Cici, Direktur Program INSPIRASI mengatakan, kepala sekolah swasta mengalami kekhawatiran yang cukup tinggi terhadap kondisi keuangan sekolah selama masa pandemi. Sementara itu, berdasarkan temuan INOVASI, beberapa guru di NTB dan NTT memilih tak memberikan tugas selama BDR. Oleh karena itu, siswa kelompok rentan dari wilayah terpencil, status sosial rendah, dan berkebutuhan khusus adalah mereka yang beresiko tinggi tertinggal dalam adaptasi pelaksanaan BDR.

Penulis: Dyah A Kusumaningrum

Editor: Masdar Fahmi

No Comments

Post A Comment