Menjadi Inklusi di Era Limitasi, Mungkinkah?

Menjadi Inklusi di Era Limitasi, Mungkinkah?

Karena ngajarnya dikit-dikit, anak yang nggak bisa jadi ketahuan, beda kalau megang kelas kan biasanya siswanya banyak jadi satu terus pada lari sana sini

Kalimat ini yang pertama kali muncul dari Bu Mulyawati, guru kelas 1 di SDN Karanganyar 2, Klari, Kabupaten Karawang saat ditanya apa yang beliau rasakan saat melakukan pembelajaran luring dengan mendatangi kelompok belajar siswa-siswanya.

Ada 32 siswa kelas 1 yang menjadi tanggung jawab Bu Mul, banyak diantara siswanya ini yang sebelumnya tidak mengenyam pendidikan usia dini (PAUD/TK). Bayangan siswa kelas 1 yang siap belajar Tema 1 Diriku seketika sirna saat mengetahui bahwa beberapa siswanya tidak hanya belum mampu menulis, tetapi memegang pensil pun masih kesulitan. Tentu saja hal ini memunculkan limitasi pertama yang harus dihadapi Bu Mul.

Limitasi kedua terkait dengan keterjangkauan lokasi tempat tinggal siswa. 32 siswa kelas 1 di SDN Karanganyar 1 ini terbagi menjadi 6 kelompok belajar. Setiap harinya Bu Mul mengunjungi 3 kelompok belajar. Ada 1 kelompok belajar yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya dan akses jalan pun terjal karena jalanannya bebatuan. “Biarpun repot, jauh, suka kesasar, tapi seneng kalau sudah ketemu anak-anak, malah ada yang sudah nunggu dari jam 6”, ujarnya.

Singkatnya waktu pun menjadi limitasi Bu Mul untuk berlama-lama membimbing siswanya di setiap kelompok belajar. Meskipun begitu, Bu Mul tetap mencoba mengetahui ketercapaian belajar siswanya dengan  penilaian cepat dan sederhana. Salah satu penilaian yang dilakukan adalah dengan meminta siswanya menulis atau membilang bilangan yang secara acak didikte.

Dari jawaban mereka, saya jadi lebih mengenal karakter dan kebutuhan mereka, tidak bisa itu kalau disamakan, harus dibedakan, contohnya ada siswa yang saya suruh nulis bilangan 0 terus biar lancar dulu nulisnya, yang sudah bisa nulis bilangannya lebih banyak. Ibaratnya kalau nyuci beras, ini berasnya kecuci semua” ujarnya. Dia percaya bahwa tiap anak memang punya kebutuhan yang berbeda dan harus diakomodasi dengan cara atau strategi yang berbeda pula.

Pernyataan seperti ‘anak yang nggak bisa jadi ketahuan’, ‘siswa tidak bisa kalau disamakan, harus dibedakan’ tentu saja mengingatkan kita akan pendidikan inklusi, dimana pembelajaran harus dapat mengakomodasi perbedaan kebutuhan siswa yang bisa muncul dari latar belakang, lokasi, karakter, potensi, kemampuan siswa atau faktor lainnya[1]. Tentu saja tak terpikirkan sebelumnya bahwa era limitasi sekarang ini mampu menginisiasi pembelajaran inklusi secara organik seperti cerita Bu Mul. Jika orang sering berkata with limitation comes innovation, Bu Mul mampu memberikan sentuhannya menjadi with limitation comes inclusion.

“Think about your constraints for a moment—not as barriers to your ability to innovate, but instead as a puzzle that holds the opportunity for creativity and great work” – David Sturt[2]


Penulis : Cici Tri Wanita

Editor : Masdar Fahmi


[1] UNESCO (2005b) Guidelines for Inclusion: Ensuring access to education for all Paris: UNESCO, p.13.

[2] https://www.forbes.com/sites/groupthink/2013/07/12/creativity-how-constraints-drive-genius/#587fa7bc3d89

No Comments

Post A Comment