Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Keterlibatan Orang Tua di Sekolah Indonesia

Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Keterlibatan Orang Tua di Sekolah Indonesia

Kepala sekolah perlu terlibat dengan banyak orang: orang tua, masyarakat, sistem pemerintahan daerah, guru, anak-anak, untuk menyelesaikan masalah dalam jangka pendek dan jangka panjang, serta membangun dan memelihara kepercayaan masyarakat yang terlibat di sekolah. Ketika orang tua lebih terlibat di sekolah, mereka lebih memperhatikan pembelajaran siswa di rumah , pekerjaan rumah, absensi anak-anak mereka, dan lain-lain, sehingga mereka lebih serius dalam melakukan pembelajaran sehari-harinya. Sudah menjadi hal yang lumrah bahwa kebijakan pendidikan harus menekankan peran orang tua dan masyarakat tentang bagaimana mereka mendidik anak-anaknya di sekolah. Terlebih karena mereka memiliki keingintahuan untuk menyerahkan masalah pendidikan sepenuhnya kepada pihak sekolah.

Kerja sama yang berarti antara kepala sekolah dengan orang tua dan masyarakat di sekitar sekolah dapat berkontribusi pada keberhasilan sekolah. Lebih lanjut, keberhasilan kepemimpinan di sekolah didasarkan pada penerimaan anggota sekolah, orang tua, dan masyarakat. Penting bahwa kepala sekolah pertama-tama berurusan dengan komunitas mereka yang mencakup orang tua, guru, dan komunitas sekolah lainnya dalam proses yang mewakili sudut pandang sekolah tentang keberhasilan sekolah. Mendapatkan kepercayaan dari warga sekolah dan masyarakat sekitar sekolah merupakan hal yang perlu dilakukan pimpinan sekolah. Keterbukaan terhadap warga sekolah yang melibatkan orang tua merupakan salah satu aspek yang berkontribusi langsung terhadap keberhasilan sebagai kepala sekolah. Kepala sekolah mendukung pengembangan dan keberlanjutan hubungan baik di dalam sekolah dan masyarakat di luar sekolah sebagai hal yang penting untuk merangkul keberhasilan sekolah. Beberapa studi (Gurr dan Raihani , 2006; Dimmock, 2005; Day, 2009) menunjukkan bahwa ada kebutuhan untuk mengembangkan struktur yang memungkinkan para pemimpin untuk mempromosikan keterlibatan secara positif yang melibatkan orang tua dan masyarakat.

Sebagian besar kepala sekolah di Indonesia tidak membuat keputusan secara sadar ketika dalam proses menuju posisi kepemimpinannya sekarang. Kepala sekolah seringkali ditempatkan dalam perannya oleh pemerintah karena statusnya sebagai pegawai negeri. Akibatnya, mereka sendiri yang harus beradaptasi dan menyesuaikan praktik mereka dengan lingkungan sekolah tertentu serta membangun hubungan dengan orang tua. Seperti disebutkan dalam literatur bahwa setiap pelatihan, persiapan dan pengalaman sebelum memimpin sekolah bisa memberikan kontribusi yang signifikan untuk kemampuan kepala sekolah dalam memimpin. Kepala sekolah di Indonesia sebagian besar didasarkan pada keterlibatannya sebagai orang tua terkait dengan pengetahuan, perspektif, keyakinan pribadi yang telah terakumulasi selama hidup mereka. Tyler (2014) berpendapat bahwa keputusan dan kebijakan kepala sekolah mencerminkan karakter dan keyakinan pribadinya yang menciptakan kejujuran, kredibilitas, dan kesetaraan di antara anggota sekolah dan masyarakat. Perbedaan antara sekolah yang efektif dan tidak efektif dapat disebabkan oleh kebijakan yang tepat atau tidak tepat yang dibuat oleh mereka. Day (2000) menyatakan bahwa pengalaman dan nilai-nilai pribadi pemimpin sekolah berpengaruh terhadap cara mereka memimpin sekolah.

Kemampuan kepala sekolah untuk beradaptasi, terutama dalam situasi yang menantang, dapat berkontribusi pada keberhasilan mereka dalam memimpin sekolah. Terbukti bahwa kepala sekolah yang mendukung pengembangan dan keberlanjutan hubungan dengan sekolah dan masyarakat di luar sekolah sangat penting untuk keberhasilan sekolah. Keberhasilan sekolah tidak semata-mata menjadi tanggung jawab kepala sekolah. Orang tua dan masyarakat sekitar sekolah, sebagaimana dijelaskan di atas, berperan sangat penting; sebuah sekolah yang sukses pada kenyataannya harus didorong terutama oleh komunitas karena siswa sangat mungkin untuk tinggal dalam keluarga dan komunitas mereka setelah mereka meninggalkan sekolah. Oleh karena itu, orang tua dapat dianggap sebagai mitra penting bagi sekolah.

Referensi

Day, C. (2000). Effective leadership and reflective practice. Reflective Practice. 1:pp. 113-127. 10.1080/713693134.

Day, C (2009). Building and sustaining successful principalship in England: The importance of trust. Journal of Educational Administration 47(6): pp.719-730. 

Dimmock, C. (2005). School community perspectives and their leadership implications. Nottingham: National College for School Leadership.

Gurr, D. and Raihani (2006) Value-driven school leadership: an Indonesian perspective. Leading & Managing 12(1): pp. 121-134.

Tyler, C. (2014). Today’s challenges and dilemmas for ethical school leaders. E-Leader Bangkok. Retrieved April 2017

from www.g-casa.com/conferences/bangkok14/papers/Tyler.pdf

Penulis: Yoni Nurdiansyah

No Comments

Post A Comment